Islamedia:
Teringat kembali aku akan nasehat Syaikhut Tarbiyah, Ust. Rahmat Abdullah,
tentang dakwah…Memang
seperti itu dakwah.
Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.Bahkan di
tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.Lagi-lagi
memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang
belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh
lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.Seperti itu
pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi
kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.Sebagaimana
tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum
muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi
sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang
Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun
ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati
sebagai jiwa yang tenang.Dan di
etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat
tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa
tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka
paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang
sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.Dakwah
bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak
menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan
kefuturan.Tidak…
Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.
Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan
yang jauh lebih “tragis”.Justru
karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena
rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi
adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya
salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah
untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.Begitu pula
rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk
mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.Begitupun
Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi
mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya
“ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik
bagi iman..Karena itu
kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin
sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka
jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi
karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu
mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon
dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh
Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…“ Maka satu
lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi
iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…“Teruslah
bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)Kalau iman
dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah. : In
memoriam Ust. Rahmat Abdullah La’allanaa fii barokatillah…. Ya Alloh, karuniakanlah
kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMASAH untuk terus bermujahadah
dengan penuh kesabaran….aamiin.
Rohis's Blog
Belajar, Belajar dan terus belajar Do The Best Be The Best
Senin, 26 Agustus 2013
Rabu, 06 Maret 2013
Ma'rifatullah
MA’RIFATULLAH
Sesungguhnya semakin dalam dan
sering kita memahami untuk mengenal Allah maka kita akan semakin merasa dekat
dengan-Nya. Semakin dekat perasaan kita kepada Allah, semakin tenang jiwa kita,
sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’anulkarim dalam Surat Ar Ra’du (13) :
38.
Ketika kita berbicara tentang
Allah kita tidak hanya membahas Allah sebagai Rabb (Pencipta) namun kita juga
membahas bahwa Allah sebagai Malik dan Illah. Secara definitif dalam Al Qur’an
dijelaskan bahwa Malik memiliki makna Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa. Illah
memiliki makna sebagai yang paling dicintai, yang paling ditakuti dan yang
menjadi sumber pengharapan.
Allah SWT sebagai pencipta lebih
mudah dipahami dibandingkan memahami Allah sebagai Malik dan Illah. Ini
disebabkan karena memahami Allah sebagai Malik memiliki berbagai konsekuensi
diantaranya konsekuensi pengabdian melaksanakan perintahnya, konsekuensi
menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang paling dicintai, konsekuensi
menjadikan Allah sebagi satu-satunya penguasa diri, dan sebagainya. Konsekuensi
inilah yang biasanya menjadi kendala bagi kita untuk memahami Allah secara
menyeluruh.
Dalam memahami dan mengenal
Allah, kita sebaiknya berkeyakinan bahwa Allah sumber ilmu dan pengetahuan.
Ilmu tersebut berfungsi sebagai pedoman hidup dan sebagai sarana hidup. Dengan
keyakinan itu maka kita akan lebih mudah untuk memahami Allah dan juga akan
memiliki kepribadian yang merdeka dan bebas karena kita hanya menjadikan Allah
sebagai satu-satunya penguasa diri kita, seluruh makhluk bagi kita memiliki
posisi yang sama. Sama-sama hamba Allah jadi kita tidak takut kepada selain
Allah.
II. Makna Mengenal Allah
Ma’rifatullah adalah bahasa Arab yang terdiri dari dua kata ma’rifah dan
Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah yang diajarkan
kepada manusia adalah mengenal melalui hasil penciptannya bukan melalui zat
Allah. Karena dengan akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh
ilmu yang ada didunia ini apalagi zat Allah.
III. Pentingnya Mengenal Allah
a.
Ma’rifatullah
merupakan ilmu tertinggi yang harus
dipahami manusia. Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya.
Ma’rifatullah adalah ilmu tertinggi sebab jika dipahami memberikan keyakinan
yang dalam. Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari
kegelapan kebodohan kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (QS Luqman (31) :
18)
b.
Seseorang yang
mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya (QS Adz Dzariyat (51) : 56)
c.
Berilmu dengan
ma’rifatullah sangat penting karena berhubungan dengan manfaat yang
diperolehnya yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dengan kedua hal
tersebut akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan yang hakiki.
IV. Jalan Untuk Mengenal Allah
- Akal dan Fitrah
- Pendengaran dan Penglihatan
- Alam semesta
- Manusia dan hewan
- Pengenalan jiwa
- Mu’jizat
- Melalui Asmaul Husna (QS Al
Mu’min (40) : 62, Al Baqarah (2) : 284)
V. Hasil Mengenal Allah
Hasil dari mengenal Allah adalah
peningkatan iman dan taqwa sehingga muncul beberapa hal dibawah ini :
- Kebebasan
Dengan mengenal Allah kita menjadi manusia yang bebas tidak menjadi budak
sesama makhluk dan juga menyembah apapun kecuali Allah SWT yang memang berhak
disembah. (QS Al An’am (6) : 82).
- Memberi ketenangan. (QS Ar
‘Radu (13) : 28)
- Keberkahan (QS Al A’raf (7) :
96)
- Kehidupan yang baik (QS An
Nahal (16) : 97)
- Syurga (QS Yunus (10) :
25-26)
- Keridhoaan Allah
(Mardhotillah) (QS Al Bayyinah (98) : 8)
VI. Hal-Hal yang Menghalangi Mengenal Allah
- Kesombongan (QS An Nahal (16)
: 22, Al Mu’min (40) : 35)
- Dzalim (QS As Shaff (61) : 7)
- Tidak berpengetahuan, (QS Az
Zumar (39) : 65-66)
- Dusta (QS Al Baqarah (2) :
10, Al Mursalat (77) :19)
- Menyimpang (QS Al Maidah (5)
: 13)
- Berbuat kerusakan/fasad (QS
Al Hasyr (59) : 19)
- Lalai (QS Al A’raf (7) : 179)
- Banyak berbuat maksiat, (QS
Al Muthaffifiin (83) : 14)
- Ragu-ragu (QS An Nur (24) :
50)
Semua sifat diatas merupakan bibit kekafiran kepada Allah yang harus
dibersihkan dari hati dan pemahaman. Kekafiran yang menyebabkan Allah mengunci
hati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka akibat
perbuatan mereka.
Referensi :
1. Allah Jalla Jalalahu, Said Hawwa
2. Ma’rifatullah, DR. Irwan Prayitno
3. Petunjuk Jalan, Sayyid
Quthb
4. Tazkiyatun Nafs, Said
Hawwa
5. Aqidah Seorang Muslim, Al
Ummah
Abah...
Abah…
Pagi ini adalah hari yang sangat
mendebarkan bagiku. Betapa tidak, selama seminggu berjuang untuk menghadapi
ujian semester dua ditengah kondisi abah yang seringkali sakit akhir-akhir ini,
tetapi bagaimanapun juga ayah tetap juga berusaha kerja disawah.
abah bilang
“ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga
umi” abah memberikan pesan yang begitu hangat, membuat hatiku luluh dan mataku
berkaca-kaca.
“insyaAllah
abah, mohon doanya dari abah dan umi” aku langsung memeluk abah dan abah
mengusap-usap kepalaku tangan lembutnya yang telah menjadi sedikit kasar dengan penuh kasih sayang.
“kalau
masalah doa, abah dan umi tentu saja mendoakanmu, seperti yang kau minta.”
Kata-kata umi turut menyumbangkan persaan haruku, aku tak kuasa menahan air
mataku, akhirnya air mataku pecah dan terisak.
Entah kenapa
kejadian itu membuatku begitu bersemangat sekolah dan tak ingin membuat abah
dan umi kecewa, sekalipun tidak cukup uang untuk membeli buku, aku usahakan
untuk meminjam buku dengan teman yang punya buku. Mungkin bagi seseorang itu
hal biasa, tetapi bagi aku yang pemalu ini aku sebenarnya enggan untuk
melakukannya. Mungkin karena itulah abah dan umi memberiku semangat.
Aku berkaca
dicermin sambil berkata “ya, pagi ini aku bertekad apapun hasilnya aku harus
ikhlaskan dengan semua yang udah aku usahakan, semangat syafa,” aku tersenyum
gembira mengatakan hal itu.
“syafa, ayo
cepat berangkat, nanti telat pemberitahuan raportnya” umi mengingatkanku
“oh iya..
umi” aku langsung bergegas keluar kamar, mencari umi diruang tengah.
“bilang sama
bu guru umi tidak bisa hadir,” umi ingatkan kata-kata itu lagi setiap ada
pembagian raport. Ya, selama ini abah dan umi memang sudah jarang menemaniku mengambil raport sejak 2 tahun
terakhir ini. Bukan tidak mau, tetapi abah dan umi bekerja untuk mencukupi
kebutuhan kami.
“sip umi,
guru syafa udah tau kok, palingan nanti guru syafa bilang gini, syafa maaf kan
ibu guru karena belum bisa menyerahkan
raportnya langsung dihadapan umi syafa” candaku pada umi.
“dasar kamu”
umi menyubit pipiku dengan senyumnya yang indah.
***
“Alhamdulillah,
Ya Allah”. Syukurku pada Allah yang telah memberikanku juara pertama.
Ini adalah kali pertamanya aku mendapatkan juara pertama,
selama ini rangking yang paling tinggi rangking lima.
“Subhanallah,
selamat ya syafa” kata nia sahabatku “kamu bukan hanya juara 1 dikelas tapi
juga umum.
“Alhamdulillah,
terimakasih ya nia” aku langsung memeluknya dengan riang, saking riangnya
kuajak ia melompat-lompat kegirangna bersamaku. Tiba-tiba “DEG”
“lho ada apa
syafa” Tanya nia keheranan melihat ekspresiku yang tiba-iba berubah.
“aku cuman
teringat sama abah dan umi, aku harus cepat-cepat pulang”, aku sudah tak sabar
ingin memberitahu kabar baik ini pada abah “abah pasti senang dengar berita
ini”
“ya sudah,
yuk kita pulang” nia langsung menggandengku,tampaknya ia lebih bersemangat.
Selama
diperjalanan aku hanya memikirkan bagaimana nanti ekspresi abah dan umi. Aku
menatap birunya langit. Aku tidak tahu bagaimana menngambarkan perasaan ini.
Mataku berkaca-kaca.hingga aku tak merasakan jauhnya kami berjalan kaki untuk
menuju rumah. Maklum di tempat tinggal kami tidak ada angkot. Aku tidak
menyadari ternyata aku sudah hampir sampai dirumah. Rumahku dengan nia lumayan
dekat, biasanya aku duluan sampai.
“eh syafa”
nia berhenti dan menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari lamunanku.
Aku
keheranan “ha, ada apa nia? Udah sampai ya kita? Rumahku kan di…..,,,,” kataku
terhenti ketika ku arahkan pandanganku ketempat keramaian.”kenapa disana ramai
sekali?” tanyaku dengan penuh curiga.
“dengar,
seperti ada yang bacakan surah yasin” nia coba kenali suara apa itu
“iya nia
benar” aku juga mendengarnya begitu jelas.
“syafa yuk
kita kesana” ajak nia
Setelah kami
berjalan mencoba melihat keramaian apa yang terjadi. Dan tiba-tida aku
tersadar. Yah, ternyata keramaian itu adalah warga yang datang dari kampungku
ada juga warga yang tidak ku kenal, ku pastikan itu adalah warga kampung
sebelah yang juga datang.
“nia, ini
kan rumahku, kenapa aku gak sadar?” kataku pada nia, aku tiba-tiba
mengkhawatirkan sesuatu hal..
“syafa” sapa
seseorang padaku..
Ku cari
sumber suara itu. “teteh andin” aku
terkejut “ada apa teh, kenapa rumah syafa ramai begini?” aku mulai berkaca-kaca
Ku lihat wajah teteh andin sendu, matanya turut berkaca-kaca
namun ia berusaha tersenyum padaku sambil
memegang kedua pundakku dan menatapku dalam.
“syafa, yang
sabar yah, abah telah kembali
kepada-NYA” kata-kata teteh tersekat. Tangisnyapun pecah, tak kuasa ia menahan dan
langsung memelukku erat-erat.
Aku hanya
terdiam, aku masih belum percaya, tetapi air mataku mengalir begitu mendengar
kabar itu “innalillahi wa innalillahi roji’un, abah” kata itu yang sekuat tenaga mungkin ku
ucapkan dalam hati yang begitu rapuh.
Teteh andin
pun melepaskan pelukannya, dan aku pun langsung berlari kedalam ingin kucium
wajah abah dan tangannya.
“abah, syafa
juara umum bah, abah, abah dengarkan, syafa juara umum, abah,
abaaaaaaaaaahhhhhh” bisikku penuh tangis. Ku cium kening dan tangan abah untuk
terakhir kalinya. Dalam hati ku berharap abah akan tersenyum padaku dan akan
memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun kali ini aku yang mengucapkan
selamat pada abah “abah selamat jalan, semoga engkau berada disis-NYA sampaikan
pada-NYA bahwa aku mencintai abah karena-NYA”
***
Ya baru ku tahu abah terkenang
jantungan saat bekerja di sawah. Abah memang sering mengeluh sakit tetapi tidak
pernah mengeluh dihadapanku, aku hanya diam-diam menatap abah. Ketika ku
tanyakan , abah selalu bilang “abah baik-baik saja” sembari memberi senyum hangatnya padaku.
Seminggu kepergian abah semuanya
berubah, aku mulai tidak mau kesekolah lagi, aku tidak mau keluar kamar. Aku
mengurung diriku dikamar. aku tidak mau makan. Umi berusaha membujukku dan mengingatkanku.
“fa, ayo makan nak, kamu dari kemarin
gak makan-makan nanti kamu sakit” kata umi dengan menahan tangis.
Aku hanya diam dalam tatapan kosong.
“syafa, jangan terus seperti ini,
abah bakalan sedih jika melihatmu begini”umi menangis
Kutatap umi dengan mataku yang sudah sembab.
“umi,jangan
nangis” suara serakku.
“bagaimana
umi tidak menangis dengan keadaan anak umi seperti ini ,” tangis umi belum
pernah kudengar seperti ini sebelumnya, hatiku yang mulanya tak peduli dan
hanya memikirkan dan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku ingin
menyusul abahku saja namun sekarang hatiku benar-benar terhenyuk dan aku mulai
merasa bersalah karena membuat umi menangis karena tingkahku.
“umi juga
tidak mau makan kalau kamu tidak mau makan juga,” tegas umi padaku.
“umi, jangan
begitu, umi harus makan” suara serakku dengan wajah memelas
“kenapa umi
tidak boleh begitu, umi sudah cukup sedih dengan kepergian separuh hatimu umi,
dan umi juga tidak tega melihat buah hatiku begini. Umi merasa bersalah karena
tidak bisa menjaga amanah abah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia” umi
menangis tersedu-sedu “umi ingin menghukum diri umi karena belum bisa memenuhi
amanah abahmu”
“dengan
tidak makan?” tanyaku “umi jangan menghukum diri umi”
“kalau syafa
tidak mau umi menghukum diri umi, berhentilah begini, atau tidak….” Kata-kata
umi terhenti menahan tangis, “umi akan tetap menghukum diri umi” umi langsung
berdiri dengan tangisnya dan meninggalkan aku yang lemah ini
Airmataku
terus mangalir “umi jangan hukum diri umi, syafa gak mau umi sakit” dan aku pun
tak sadarkan diri.
***
Aku terbangun dan aku sudah berada
di sebuah ruangan. Aku lihat langit-langit ruangan itu.
“sepertinya ini bukan kamarku,” aku
sadar bahwa aku tidak sedang berada dikamarku
“eh sudah bangun,ya syafa” sapa
seorang wanita berjilbab dengan pakaian serab putih sambil membawa peralatan
medis yang ditemani dengan dua orang yang juga serba putih. Dan aku menyadari
ternyata aku sedang ada dirumah sakit
“dokter, dimana umi” terasa berat
begiku untuk berbicara karena lemahnya tubuhku ini, namun karena rindunya aku
pada umi serasa sudah lama tak bersua membuat aku berusaha sekuat tenaga untuk
bertanya
“sebentar lagi kesini, dokter
periksa dulu ya” dokter berusaha menghibur diriku dengan senyumnya.
Sesaat setelah dokter memeriksa ku.
Umi datang bersama dengan teteh andin adik abah.
“bagaimana keadaanmu? Apa sudah
membaik?” Tanya umi sembari membelai pipiku.
Ya Allah
terasa begitu lembut dan hangat tangan umi.
Aku tidak menjawab pertanyaan umi.
Aku ingin mengatakan hal yang lain.
“umi, syafa minta maaf atas sikap
syafa, syafa janji akan kembali bersekolah, dan syafa gak akan kecewakan abah
dan umi”
“Alhamdulillah, umi senang
mendengarnya” senyum manis terpancar dari umi serta teteh andin dan sahabatku
nia
“syafa harus kembali bangkit, pasti
abah syafa senang dan tenang disana karena syafa sudah mau move on” teteh andin
menghiburku
“iya syafa harus ceria lagi, nia
sudah kengen belajar bareng syafa lagi” hibur nia
“nuhun teteh andin, nia,”
“MOVE
ON” ya syafa harus move on, kata-kata
semangat dari teteh membagkitkan aku yang sudah terpuruk oleh keegoisan diriku
sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan tanpa berpikir bahwa orang-orang
disekitar mengingankan kau yang ceria dan terus berusaha dan mewujudkan impian
yang pernah abah sampaikan padaku ““ syafa adalah anak satu-satunya abah dan
umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” yah, aku harus jadi kebanggan abah
dan umi.
***
Malam ini disepertiga
malam terakhir ,aku rebahkan diriku, kuserahkan hati dan jiwaku yang mudah
lemah dan rapuh ini pada Rabb yang Maha pemilik hati. Kutengadahkan tanganku
dengan penuh pengharapan doa serta penuh airmata penyesalan
“Ya Allah
ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangi mereka sebagaimana mereka
menyayangi aku sewaktu kecil. Ya Allah letakkan Abah disisiMU, lindungi ia dari
azab kubur dan tenangkanlah ia Ya Allah karena selama ini hamba sudah
membuatnya tidak tenang karena terlalu larut dalam kesediha hamba , Ya Allah kuatkan
lah hamba juga umi dalam menjalani kehidupan kami, Ya Allah kabulkanlah,
Aamiin”
THE END
Semoga tulisan ini bermanfaat buat
sobat-sobat semua ^_^. Sile kasih komentar dan sampaikan ibrah (hikmah) yang
bisa sobat ambil dalam cerita sederhana ini.
Jazakumullah khairan katsir J
Malu
Malu Sebagian Dari Iman
Assalamu'alaikum wr.wb
Adik-adik sekalian yang kakak cintai karena Allah. Alhamdulillah Puji dan
Syukur ke hadirat Allah swt yang telah memudahkan kita untuk bertemu dalam
majelis atau pertemuan kita yang mulia ini. Adik-adik, majelis ini insya Allah
akan menjadi tempat bagi kita semua untuk saling mengingatkan akan kebesaran
Allah Azza wa Jalla.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad saw. Juga
tidak lupa kepada keluarga dan para sahabat yang senantiasa menjaga dengan
teguh keimanan dan keislamannya hingga akhir hayat mereka dan pengikutnya yang
senantiasa istiqomah.
Adik-aadik sekalian, tentunya pernah denger dong yang namanya "malu"?
atau mungkin pernah merasa malu?
Malu kadang menjadi alasan untuk kita menjadi tidak berani atau tidak pede.
Contohnya kalau kalian diminta untuk menyampaikan pendapat di depan
temen-teman. Pendapat itu tidak tersampaikan karena malu …….ah. Jika dilihat
dari satu contoh diatas sepertinya malu itu terkesan negatif ya? Iya nggak?
Padahal mungkin kalian juga sering denger kalau malu itu adalah sebagian dari
iman. Nah.. sebenarnya malu yang seperti apa sih yang sebagian dari iman itu.
Kita akan coba bahas yaaa..
Utsman Yang Pemalu
Sekarang kakak mau tanya nih, masih inget enggak siapa khulafa'ur Rasyidin yang
ketiga? Ya, betul. Beliau adalah Utsman bin Affan. Alhamdulillah yaa kalian
masih inget. Ternyata Utsman itu seorang yang pemalu loh…… Kita simak kisahnya
berikut ini :
Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah r.a. bahwa pada suatu hari, Abu Bakar
meminta izin untuk menjumpai Rasulullah saw, yang ketika itu sedang berbaring,
sementara jubahnya tersingsing di salah satu kakinya. Abu Bakar pun diberi izin
dan segera masuk. Abu Bakar berbicara dengan Rasulullah sebentar, kemudian ia
pun berlalu. Setelah Abu Bakar berlalu, tidak lama datanglah Umar bin Khattab
yang juga ingin bertemu dengan Rasulullah dan diberinya izin. Setelah selesai
keperluannya Umar pun pergi.
Setelah keduanya berlalu, datanglah Utsman yang juga ingin bertemu dengan
Rasulullah. Sebelum Utsman diizinkan masuk, Aisyah melihat Rasulullah
berkemas-kemas, ia segera duduk dan menarik bajunya ke bawah agar menutupi
kakinya. Kemudian ia berbicara dengan Utsman. Tak lama setelah Utsman pergi,
Aisyah menanyakan kepada Rasulullah saw :
"Wahai Rasulullah, saya tidak melihat anda berkemas-kemas untuk menerima
kedatangan Abu Bakar dan Umar, sebagaimana anda lakukan terhadap kedatangan
Utsman!" Maka Sabda Rasulullah saw, " Utsman itu seorang perasa dan
seandainya saya izinkan ia masuk sewaktu saya berbaring tentulah ia akan malu
untuk masuk dan akan kembali sebelum keperluan yang hendak disampaikannya dapat
saya penuhi!
Hai Aisyah, tidakkah saya akan malu terhadap orang yang dimalui oleh
malaikat?"
Sifat pemalu Utsman dipuji oleh Rasulullah saw, beliau bersabda, " Orang
yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abu Bakar dan paling teguh dalam
memelihara ajaran Allah ialah Umar dan yang paling bersifat pemalu ialah Utsman
" (H.R. Ahmad, Ibnu Maajah, At Tirmidzi).
Malu Kepada Allah
Setelah menyimak kisah Utsman bin affan tadi, ternyata sifat malu itu tidak
negatif.. malah dipuji oleh Rasulullah saw. Kenapa demikian? Mau tau
jawabannya, kita tanya.. Galileo…. Eh.. Udah gak ada yaaa..
Ternyata…… malunya Utsman itu bukan karena malu kepada teman-temannya (minder)
melainkan malu kepada Allah swt. Maka dari itu sifat malunya itu tidak
menyebabkan bermalas-malasan berbuat kebaikan ataupun jadi minder dan dijauhi
oleh sahabat-sahabat yang lain.
Malah sifat pemalu itulah yang mendorong Utsman r.a. menjadi seorang dermawan yang
penuh welas asih. Dan sifat malunya itu telah melindunginya dari kebimbangan
dan keragu-raguan terhadap kebenaran.
Nah…….. berarti sekarang sudah mulai ada titik terang yaaa… malu sebagian dari
iman itu, malu yang seperti apa, yaitu malu kepada Allah swt. Yang menjadi
pertanyaannya sekarang adalah bagaimana sih malu kepada Allah itu?
Dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Nabi saw bersabda, " Malulah kalian kepada
Allah dengan sebenar-benarnya." Abdullah bertanya kepada Nabi, " Ya
Nabinya Allah, sesungguhnya aku malu". Nabi saw bersabda, "
Bukan berarti malumu itu telah dapat disebut malu kepada
Allah, tetapi orang yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya menjaga
kepala dan segala sesuatu yang ada di kepala, menjaga perut dan sesuatu yang
ditampungnya dan ingatlah kematian dan cobaan, barangsiapa menginginkan
kehidupan akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia dan pilihlah kehidupan
akhirat dengan mengesampingkan kehidupan dunia. Maka barang siapa melakukan
yang demikian. Maka dikatakan benar-benar malu kepada Allah",
Dari hadist diatas, tersirat bahwa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya
tidak hanya diucapkan dengan lIsan saja tapi juga harus diikuti dengan
keyakinan hati dan amal perbuatan. Karena itu malu adalah sebagian dari iman.
Sementara iman itu sendiri adalah keyakinan dalam hati dan diucapkan dengan
lIsan serta dibuktikan dengan amal perbuatan.
Kita malu kepada Allah swt, bila kita berbuat yang tidak disukai oleh Allah
karena di dalam hidup ini tidak ada satupun dari perbuatan kita yang luput dari
pengawasan Allah swt. Sederhananya begini, kita hidup di dunia ini lagi
disyuting sama Allah dan hasilnya akan diperlihatkan di hari akhir nanti. Semua
perbuatan kita yang disembunyikan di dunia akan terlihat disitu, sesuatu yang
selama ini kita sembunyikan dari penglihatan manusia.
Manusia merasakan malu karena ia mempunyai akal dan perasaan. Itulah yang
membedakannya dengan hewan. Hewan tidak merasa malu tidak berpakaian ,
sedangkan manusia……. Malu lah yaaa…
Kenapa hal itu terjadi? Karena hewan tidak diperintahkan oleh Allah untuk
menutup auratnya maka dari itu mereka asik-asik aja tuh gak pake baju. Malah
kita ngeliatnya aneh dan lucu kalau hewan berpakaian. Sedangkan manusia
diperintahkan oleh Allah untuk menutup auratnya, sehingga ia merasa malu kalau
tidak berpakaian. Contoh yang lain….seseorang merasa malu apabila ia
berdua-duaan (perempuan dan laki-laki) karena Allah melarang untuk berkhalwat
atau berdua-duaan laki-laki dan perempuan non muhrim. Kalian bisa cari contoh
yang lainnya. Nah….malu yang seperti itulah yang sebagian dari iman, bukan malu
karena merasa rendah diri. Ingat yaa rendah diri berbeda dengan rendah hati.
Rendah diri adalah merasa dirinya rendah disebabkan karena kurangnya ilmu
pengetahuan, pengalaman, kecerdasan, keterampilan ataupun cacat tubuh. Juga
karena perasaan bersalah terutama kurang percaya (iman) pada Allah.
Sedangkan rendah hati itu kebalikan dari sombong. Malu untuk
berbuat munkar adalah sebagian dari iman, ia adalah pendorong utama agar selalu
berbuat kebaikan dan berani meninggalkan kemunkaran.
Sepertinya sekarang ini sudah banyak yaa.. yang kehilangan rasa
malunya……….mereka cenderung berbuat sekehendak mereka tanpa menghiraukan
aturan-aturan Allah.
Abu Mas'ud Uqbah bin Amr Al- Anshari Al Badri berkata bahwa Rasulullah saw
bersabda, " Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari
ungkapan kenabian yang pertama adalah,'Jika engkau tidak malu, berbuatlah
sekehendakmu." (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).
Jadi, terserah kalian …….apakah masih mau mempunyai rasa malu kepada Allah atau
tidak. Jika tidak.. silahkan berbuatlah sekehendak kalian dan tentunya Allah
telah telah menyiapkan balasan yang telah kita perbuat.
Nah, adik-adik sepertinya uraian kakak sudah banyak sekali yaa.. mudah-mudahan
bisa difahami dan diamalkan. Sebenarnya Kebenaran itu datangnya dari Allah.
Wallahu 'alam bi shawab
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Abah…
Pagi ini adalah hari yang sangat
mendebarkan bagiku. Betapa tidak, selama seminggu berjuang untuk menghadapi
ujian semester dua ditengah kondisi abah yang seringkali sakit akhir-akhir ini,
tetapi bagaimanapun juga ayah tetap juga berusaha kerja disawah.
abah bilang
“ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga
umi” abah memberikan pesan yang begitu hangat, membuat hatiku luluh dan mataku
berkaca-kaca.
“insyaAllah
abah, mohon doanya dari abah dan umi” aku langsung memeluk abah dan abah
mengusap-usap kepalaku tangan lembutnya yang telah menjadi sedikit kasar dengan penuh kasih sayang.
“kalau
masalah doa, abah dan umi tentu saja mendoakanmu, seperti yang kau minta.”
Kata-kata umi turut menyumbangkan persaan haruku, aku tak kuasa menahan air
mataku, akhirnya air mataku pecah dan terisak.
Entah kenapa
kejadian itu membuatku begitu bersemangat sekolah dan tak ingin membuat abah
dan umi kecewa, sekalipun tidak cukup uang untuk membeli buku, aku usahakan
untuk meminjam buku dengan teman yang punya buku. Mungkin bagi seseorang itu
hal biasa, tetapi bagi aku yang pemalu ini aku sebenarnya enggan untuk
melakukannya. Mungkin karena itulah abah dan umi memberiku semangat.
Aku berkaca
dicermin sambil berkata “ya, pagi ini aku bertekad apapun hasilnya aku harus
ikhlaskan dengan semua yang udah aku usahakan, semangat syafa,” aku tersenyum
gembira mengatakan hal itu.
“syafa, ayo
cepat berangkat, nanti telat pemberitahuan raportnya” umi mengingatkanku
“oh iya..
umi” aku langsung bergegas keluar kamar, mencari umi diruang tengah.
“bilang sama
bu guru umi tidak bisa hadir,” umi ingatkan kata-kata itu lagi setiap ada
pembagian raport. Ya, selama ini abah dan umi memang sudah jarang menemaniku mengambil raport sejak 2 tahun
terakhir ini. Bukan tidak mau, tetapi abah dan umi bekerja untuk mencukupi
kebutuhan kami.
“sip umi,
guru syafa udah tau kok, palingan nanti guru syafa bilang gini, syafa maaf kan
ibu guru karena belum bisa menyerahkan
raportnya langsung dihadapan umi syafa” candaku pada umi.
“dasar kamu”
umi menyubit pipiku dengan senyumnya yang indah.
***
“Alhamdulillah,
Ya Allah”. Syukurku pada Allah yang telah memberikanku juara pertama.
Ini adalah kali pertamanya aku mendapatkan juara pertama,
selama ini rangking yang paling tinggi rangking lima.
“Subhanallah,
selamat ya syafa” kata nia sahabatku “kamu bukan hanya juara 1 dikelas tapi
juga umum.
“Alhamdulillah,
terimakasih ya nia” aku langsung memeluknya dengan riang, saking riangnya
kuajak ia melompat-lompat kegirangna bersamaku. Tiba-tiba “DEG”
“lho ada apa
syafa” Tanya nia keheranan melihat ekspresiku yang tiba-iba berubah.
“aku cuman
teringat sama abah dan umi, aku harus cepat-cepat pulang”, aku sudah tak sabar
ingin memberitahu kabar baik ini pada abah “abah pasti senang dengar berita
ini”
“ya sudah,
yuk kita pulang” nia langsung menggandengku,tampaknya ia lebih bersemangat.
Selama
diperjalanan aku hanya memikirkan bagaimana nanti ekspresi abah dan umi. Aku
menatap birunya langit. Aku tidak tahu bagaimana menngambarkan perasaan ini.
Mataku berkaca-kaca.hingga aku tak merasakan jauhnya kami berjalan kaki untuk
menuju rumah. Maklum di tempat tinggal kami tidak ada angkot. Aku tidak
menyadari ternyata aku sudah hampir sampai dirumah. Rumahku dengan nia lumayan
dekat, biasanya aku duluan sampai.
“eh syafa”
nia berhenti dan menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari lamunanku.
Aku
keheranan “ha, ada apa nia? Udah sampai ya kita? Rumahku kan di…..,,,,” kataku
terhenti ketika ku arahkan pandanganku ketempat keramaian.”kenapa disana ramai
sekali?” tanyaku dengan penuh curiga.
“dengar,
seperti ada yang bacakan surah yasin” nia coba kenali suara apa itu
“iya nia
benar” aku juga mendengarnya begitu jelas.
“syafa yuk
kita kesana” ajak nia
Setelah kami
berjalan mencoba melihat keramaian apa yang terjadi. Dan tiba-tida aku
tersadar. Yah, ternyata keramaian itu adalah warga yang datang dari kampungku
ada juga warga yang tidak ku kenal, ku pastikan itu adalah warga kampung
sebelah yang juga datang.
“nia, ini
kan rumahku, kenapa aku gak sadar?” kataku pada nia, aku tiba-tiba
mengkhawatirkan sesuatu hal..
“syafa” sapa
seseorang padaku..
Ku cari
sumber suara itu. “teteh andin” aku
terkejut “ada apa teh, kenapa rumah syafa ramai begini?” aku mulai berkaca-kaca
Ku lihat wajah teteh andin sendu, matanya turut berkaca-kaca
namun ia berusaha tersenyum padaku sambil
memegang kedua pundakku dan menatapku dalam.
“syafa, yang
sabar yah, abah telah kembali
kepada-NYA” kata-kata teteh tersekat. Tangisnyapun pecah, tak kuasa ia menahan dan
langsung memelukku erat-erat.
Aku hanya
terdiam, aku masih belum percaya, tetapi air mataku mengalir begitu mendengar
kabar itu “innalillahi wa innalillahi roji’un, abah” kata itu yang sekuat tenaga mungkin ku
ucapkan dalam hati yang begitu rapuh.
Teteh andin
pun melepaskan pelukannya, dan aku pun langsung berlari kedalam ingin kucium
wajah abah dan tangannya.
“abah, syafa
juara umum bah, abah, abah dengarkan, syafa juara umum, abah,
abaaaaaaaaaahhhhhh” bisikku penuh tangis. Ku cium kening dan tangan abah untuk
terakhir kalinya. Dalam hati ku berharap abah akan tersenyum padaku dan akan
memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun kali ini aku yang mengucapkan
selamat pada abah “abah selamat jalan, semoga engkau berada disis-NYA sampaikan
pada-NYA bahwa aku mencintai abah karena-NYA”
***
Ya baru ku tahu abah terkenang
jantungan saat bekerja di sawah. Abah memang sering mengeluh sakit tetapi tidak
pernah mengeluh dihadapanku, aku hanya diam-diam menatap abah. Ketika ku
tanyakan , abah selalu bilang “abah baik-baik saja” sembari memberi senyum hangatnya padaku.
Seminggu kepergian abah semuanya
berubah, aku mulai tidak mau kesekolah lagi, aku tidak mau keluar kamar. Aku
mengurung diriku dikamar. aku tidak mau makan. Umi berusaha membujukku dan mengingatkanku.
“fa, ayo makan nak, kamu dari kemarin
gak makan-makan nanti kamu sakit” kata umi dengan menahan tangis.
Aku hanya diam dalam tatapan kosong.
“syafa, jangan terus seperti ini,
abah bakalan sedih jika melihatmu begini”umi menangis
Kutatap umi dengan mataku yang sudah sembab.
“umi,jangan
nangis” suara serakku.
“bagaimana
umi tidak menangis dengan keadaan anak umi seperti ini ,” tangis umi belum
pernah kudengar seperti ini sebelumnya, hatiku yang mulanya tak peduli dan
hanya memikirkan dan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku ingin
menyusul abahku saja namun sekarang hatiku benar-benar terhenyuk dan aku mulai
merasa bersalah karena membuat umi menangis karena tingkahku.
“umi juga
tidak mau makan kalau kamu tidak mau makan juga,” tegas umi padaku.
“umi, jangan
begitu, umi harus makan” suara serakku dengan wajah memelas
“kenapa umi
tidak boleh begitu, umi sudah cukup sedih dengan kepergian separuh hatimu umi,
dan umi juga tidak tega melihat buah hatiku begini. Umi merasa bersalah karena
tidak bisa menjaga amanah abah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia” umi
menangis tersedu-sedu “umi ingin menghukum diri umi karena belum bisa memenuhi
amanah abahmu”
“dengan
tidak makan?” tanyaku “umi jangan menghukum diri umi”
“kalau syafa
tidak mau umi menghukum diri umi, berhentilah begini, atau tidak….” Kata-kata
umi terhenti menahan tangis, “umi akan tetap menghukum diri umi” umi langsung
berdiri dengan tangisnya dan meninggalkan aku yang lemah ini
Airmataku
terus mangalir “umi jangan hukum diri umi, syafa gak mau umi sakit” dan aku pun
tak sadarkan diri.
***
Aku terbangun dan aku sudah berada
di sebuah ruangan. Aku lihat langit-langit ruangan itu.
“sepertinya ini bukan kamarku,” aku
sadar bahwa aku tidak sedang berada dikamarku
“eh sudah bangun,ya syafa” sapa
seorang wanita berjilbab dengan pakaian serab putih sambil membawa peralatan
medis yang ditemani dengan dua orang yang juga serba putih. Dan aku menyadari
ternyata aku sedang ada dirumah sakit
“dokter, dimana umi” terasa berat
begiku untuk berbicara karena lemahnya tubuhku ini, namun karena rindunya aku
pada umi serasa sudah lama tak bersua membuat aku berusaha sekuat tenaga untuk
bertanya
“sebentar lagi kesini, dokter
periksa dulu ya” dokter berusaha menghibur diriku dengan senyumnya.
Sesaat setelah dokter memeriksa ku.
Umi datang bersama dengan teteh andin adik abah.
“bagaimana keadaanmu? Apa sudah
membaik?” Tanya umi sembari membelai pipiku.
Ya Allah
terasa begitu lembut dan hangat tangan umi.
Aku tidak menjawab pertanyaan umi.
Aku ingin mengatakan hal yang lain.
“umi, syafa minta maaf atas sikap
syafa, syafa janji akan kembali bersekolah, dan syafa gak akan kecewakan abah
dan umi”
“Alhamdulillah, umi senang
mendengarnya” senyum manis terpancar dari umi serta teteh andin dan sahabatku
nia
“syafa harus kembali bangkit, pasti
abah syafa senang dan tenang disana karena syafa sudah mau move on” teteh andin
menghiburku
“iya syafa harus ceria lagi, nia
sudah kengen belajar bareng syafa lagi” hibur nia
“nuhun teteh andin, nia,”
“MOVE
ON” ya syafa harus move on, kata-kata
semangat dari teteh membagkitkan aku yang sudah terpuruk oleh keegoisan diriku
sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan tanpa berpikir bahwa orang-orang
disekitar mengingankan kau yang ceria dan terus berusaha dan mewujudkan impian
yang pernah abah sampaikan padaku ““ syafa adalah anak satu-satunya abah dan
umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” yah, aku harus jadi kebanggan abah
dan umi.
***
Malam ini disepertiga
malam terakhir ,aku rebahkan diriku, kuserahkan hati dan jiwaku yang mudah
lemah dan rapuh ini pada Rabb yang Maha pemilik hati. Kutengadahkan tanganku
dengan penuh pengharapan doa serta penuh airmata penyesalan
“Ya Allah
ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangi mereka sebagaimana mereka
menyayangi aku sewaktu kecil. Ya Allah letakkan Abah disisiMU, lindungi ia dari
azab kubur dan tenangkanlah ia Ya Allah karena selama ini hamba sudah
membuatnya tidak tenang karena terlalu larut dalam kesediha hamba , Ya Allah kuatkan
lah hamba juga umi dalam menjalani kehidupan kami, Ya Allah kabulkanlah,
Aamiin”
THE END
Semoga tulisan ini bermanfaat buat
sobat-sobat semua ^_^. Sile kasih komentar dan sampaikan ibrah (hikmah) yang
bisa sobat ambil dalam cerita sederhana ini.
Jazakumullah khairan katsir J
Langganan:
Postingan (Atom)


